Dampak Perceraian Bagi Psikis Anak Remaja

Dampak Perceraian Bagi Psikis Anak Remaja

Perceraian memiliki banyak dampak, salah satunya dampak perceraian bagi anak remaja. Tentu saja, kedua belah pihak, baik itu suami maupun istri akan merasakan dampak, namun dampak pada anak-anak juga sangat besar.

Tentu saja, menghadapi perceraian bukanlah sesuatu yang mudah. Salah satu saat yang paling berat adalah ketika memberi kabar perceraian pada anak. Apalagi ketika anak tersebut sudah dalam usia remaja.

Perceraian akan lebih menyakitkan bagi remaja dibandingkan dengan anak-anak. Remaja biasanya lebih sadar akan kondisi sekitar ketimbang anak-anak namun disaat bersamaan belum bisa berpikir secara rasional. Mereka tengah berada pada situasi yang sedang mengalami banyak tantangan termasuk dalam hal psiko emosional.

Lalu, apa saja dampak perceraian bagi anak remaja? Bagaimana cara menanggulanginya?

Dampak Perceraian Terhadap Psikis Remaja

Secara psikologis, biasanya perceraian orang tua membuat remaja sadar akan potensi kehilangan peran dan fungsi akan orang tua. Ketika hal ini terjadi pada remaja, tentu saja situasinya terasa tidak tepat.

Hal ini dikarenakan anak usia remaja sedang berada pada tahapan perkembangan pencarian jati diri. Mereka sedang mengalami perubahan dalam pertumbuhan dan perkembangan baik secara fisik, emosi, kognitif, sosial, dan kepribadian. Tentu tambahan beban pikiran mengenai perceraian akan memberi dampak. 

Sehingga, anak usia remaja yang tengah menghadapi kenyataan orang tuanya bercerai beresiko menghadapi gangguan psikologis dan penyimpangan perilaku. Memangnya apa saja dampak perceraian bagi remaja secara psikologis?

  • Munculnya perilaku menentang, membangkang, atau memberontak
  • Penurunan prestasi dan fokus
  • Meningginya tingkat stress

Ada beberapa pemicu yang menyebabkan terjadinya efek-efek negatif ini, yaitu.

  • Perubahan mental yang meliputi mood dan kecemasan
  • Anak merasa kehilangan fungsi dan peran orang tua
  • Perpisahan secara fisik dan ikatan emosional dengan salah satu orang tua
  • Perceraian menyebabkan remaja kehilangan dukungan dan bantuan dalam pengambilan keputusan-keputusan dalam hidupnya
  • Perceraian yang menyebabkan remaja kehilangan salah satu faktor pembangun identitas dirinya

Dampak Positif Perceraian untuk Remaja

Tentu tidak semua perceraian memberi dampak negatif untuk remaja. Perceraian sendiri adalah sesuatu yang rumit. Ada berbagai faktor yang menyebabkan terjadinya perceraian. Kalau memang jalan terbaiknya adalah perceraian, mau tidak mau harus dihadapi.

Perceraian dapat memberikan pengaruh positif dalam peningkatan kesejahteraan psikologis dan remaja, hal itu terjadi ketika.

  • Perceraian yang terjadi karena situasi pernikahan membuat remaja sering menyaksikan pertengkaran orang tua. Tentu saja perceraian akan memberikan dampak positif buat anak yang lelah menjadi saksi pertengkaran
  • Perceraian yang membuat sosok orang tua justru jadi lebih bisa mengkonsentrasikan diri pada pengasuhan anak-anaknya
  • Perceraian yang membuat orang tuanya membina rumah tangga lagi yang lebih baik dan harmonis, anak akan terbantu dengan situasi rumah tangga yang lebih baik

Cara Menangani Psikis Anak Menghadapi Perceraian

Untuk menghindari dampak negatif yang tak diinginkan, orang tua bisa melakukan beberapa hal untuk menangani situasi genting ini. Beberapa caranya adalah sebagai berikut.

  • Mengajak bicara atau berdialog, lakukan komunikasi yang jujur dan terbuka
  • Berikan dukungan emosional, utamanya ungkapan bahwa orang tua sangat mencintai dan mendukung mereka
  • Ajak anak remaja untuk memahami apa yang sedang terjadi
  • Yakinkan anak bahwa perceraian bukan kesalahan mereka
  • Jangan kurangi kasih sayang pada anak setelah berpisah

Dengan begini, setidaknya ada usaha untuk meminimalisir luka emosional pada anak. Lambat laun, anak akan mulai menyesuaikan diri, memahami situasi, dan menerimanya dengan lapang dada.

Demikian dampak perceraian bagi psikologi anak remaja. Perlu diperhatikan bahwa tidak semua anak remaja bisa menyikapi situasi secara positif. Perlu penanganan yang sabar agar tertanam pemahaman dan menumbuhkan sikap saling pengertian.

5 Perkembangan Anak Usia 3 Tahun

5 Perkembangan Anak Usia 3 Tahun

Setiap orang tua wajib memantau perkembangan anaknya pada 1000 hari (33 bulan) pertamanya atau sebelum berusia 3 tahun. Namun bukan berarti orang tua harus abai pada perkembangan anak usia 3 tahun keatas. Meski sudah pintar berkomunikasi hingga mempelajari banyak hal, namun ada banyak hal harus orang tua pantau mulai dari berat dan tinggi badan, dan keterampilan emosional.

Perkembangan Anak Usia 3 Tahun

Anak pada usia 3 tahun umumnya senang berimajinasi dan dapat lebih mudah mengekspresikan apa yang mereka inginkan. Usia 3 tahun juga merupakan usia dimana anak masuk ke tahap prasekolah.

Berikut beberapa perkembangan anak usia 3 tahun dari segi pertumbuhan hingga keterampilan.

Pertumbuhan Anak Usia 3 Tahun

Pertumbuhan anak usia 3 tahun tidak secepat saat mereka berusia 1 tahun. Berikut standar berat badan dan panjang badan anak pada usia 3 tahun (36 bulan hingga 47 bulan) menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Berat badan normal:

  • 14,3 hingga 15,2 kg (laki-laki)
  • 13,9 hingga 15,9 kg (perempuan)

Tinggi/ panjang badan normal:

  • 96,1 hingga 102,8 cm (laki-laki)
  • 95,1 hingga 102,1 cm (Perempuan)

IMT (Indeks Massa Tubuh)

  • 15,6 hingga 15,3 (laki-laki)
  • 15,4 hingga 15,2 (perempuan)

Penting bagi orang tua untuk terus memantau berat dan panjang anak setiap bulannya. Jika Anda merasa pertumbuhan tinggi dan berat badan anak terlalu jauh dari standar, maka Anda bisa langsung mendatangi dokter spesialis anak untuk berkonsultasi.

Keterampilan Motorik

Keterampilan motorik halus dan motorik kasar anak di usia 3 tahun semakin berkembang. Mereka bisa melakukan dan mempelajari beberapa hal baru.

Keterampilan motorik halus:

Pada usia 3 tahun, anak dapat berpakaian sendiri, menggambar lingkaran dengan menggunakan krayon, pensil atau spidol, membalikan halaman buku, mencuci tangan sendiri, menggunakan peralatan makan sendiri.

Keterampilan motorik kasar:

Sebagian besar anak berusia 3 tahun sudah dapat mengayuh sepeda roda tiga, menangkap bola besar, melompat dengan dua kaki, menaiki tangga satu per satu, menendang dan melempar bola kecil dan berlari dan berjalan tanpa tersandung kaki sendiri.

Perkembangan Emosional

Perkembangan anak usia 3 tahun dari segi emosional, biasanya anak akan lebih mandiri. Mereka sudah bisa mencuci tangan atau bahkan makan sendiri. Mereka juga sering merasa takut dan mulai memahami emosi mereka sendiri, mereka mungkin akan mengatakan ‘aku marah’ saat mereka marah dan ‘aku sedih’ saat mereka merasa sedih.

Anak berusia 3 tahun juga sudah mampu berteman baik dengan teman sebayanya seperti mulai belajar bergantian saat memainkan mainan meskipun mereka tidak suka, memanggil nama temannya, mulai bisa menghibur dan menunjukkan kepedulian terhadap temannya yang sedang sedih.

Kemampuan Kognitif

Anak di usia 3 tahun juga mulai tertarik dengan hal-hal baru, mereka mungkin akan mulai sering bertanya apapun yang membuat mereka penasaran kepada orang tuanya. Cobalah menjelaskan secara sederhana apa yang anak tanyakan dan jangan mengarang cerita atau membohongi anak.

Jika Anda sering membacakan cerita pada anak, di usia ini mereka sudah mampu menceritakan kembali cerita kesukaan mereka. Anda juga dapat bermain teka-teki sederhana dengan menanyakan mengenai warna-warna yang ada pada buku ataupun krayon milik anak, karena pada usia ini anak setidaknya sudah mengenali delapan macam warna.

Kemampuan Komunikasi

Mereka juga mudah menyerap hal-hal di sekitarnya dan memahami apa yang mereka katakan, karena itu penting untuk bisa menjaga sikap dan perkataan saat di hadapan anak. Di tahap ini juga, Anda bisa mengajarkan anak untuk mengucapkan ‘terima kasih’ dan ‘tolong’

Umumnya anak di usia 3 tahun juga sudah mampu berbicara dengan cukup baik dan sudah banyak orang yang mampu mengerti apa yang mereka katakan. Mereka bisa merangkai setidaknya tiga kata untuk membentuk kalimat.

Mungkin perkembangan anak di usia 3 tahun berbeda-beda, ada yang cepat dan ada juga yang lambat. Namun jika anak tidak mampu berbicara dengan jelas, sering terjatuh, tidak melakukan kontak mata saat berbicara hingga tidak mengerti hal-hal sederhana yang Anda arahkan. Anda harus segera berkonsultasi ke dokter anak.