5 Perkembangan Anak Usia 3 Tahun

5 Perkembangan Anak Usia 3 Tahun

Setiap orang tua wajib memantau perkembangan anaknya pada 1000 hari (33 bulan) pertamanya atau sebelum berusia 3 tahun. Namun bukan berarti orang tua harus abai pada perkembangan anak usia 3 tahun keatas. Meski sudah pintar berkomunikasi hingga mempelajari banyak hal, namun ada banyak hal harus orang tua pantau mulai dari berat dan tinggi badan, dan keterampilan emosional.

Perkembangan Anak Usia 3 Tahun

Anak pada usia 3 tahun umumnya senang berimajinasi dan dapat lebih mudah mengekspresikan apa yang mereka inginkan. Usia 3 tahun juga merupakan usia dimana anak masuk ke tahap prasekolah.

Berikut beberapa perkembangan anak usia 3 tahun dari segi pertumbuhan hingga keterampilan.

Pertumbuhan Anak Usia 3 Tahun

Pertumbuhan anak usia 3 tahun tidak secepat saat mereka berusia 1 tahun. Berikut standar berat badan dan panjang badan anak pada usia 3 tahun (36 bulan hingga 47 bulan) menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Berat badan normal:

  • 14,3 hingga 15,2 kg (laki-laki)
  • 13,9 hingga 15,9 kg (perempuan)

Tinggi/ panjang badan normal:

  • 96,1 hingga 102,8 cm (laki-laki)
  • 95,1 hingga 102,1 cm (Perempuan)

IMT (Indeks Massa Tubuh)

  • 15,6 hingga 15,3 (laki-laki)
  • 15,4 hingga 15,2 (perempuan)

Penting bagi orang tua untuk terus memantau berat dan panjang anak setiap bulannya. Jika Anda merasa pertumbuhan tinggi dan berat badan anak terlalu jauh dari standar, maka Anda bisa langsung mendatangi dokter spesialis anak untuk berkonsultasi.

Keterampilan Motorik

Keterampilan motorik halus dan motorik kasar anak di usia 3 tahun semakin berkembang. Mereka bisa melakukan dan mempelajari beberapa hal baru.

Keterampilan motorik halus:

Pada usia 3 tahun, anak dapat berpakaian sendiri, menggambar lingkaran dengan menggunakan krayon, pensil atau spidol, membalikan halaman buku, mencuci tangan sendiri, menggunakan peralatan makan sendiri.

Keterampilan motorik kasar:

Sebagian besar anak berusia 3 tahun sudah dapat mengayuh sepeda roda tiga, menangkap bola besar, melompat dengan dua kaki, menaiki tangga satu per satu, menendang dan melempar bola kecil dan berlari dan berjalan tanpa tersandung kaki sendiri.

Perkembangan Emosional

Perkembangan anak usia 3 tahun dari segi emosional, biasanya anak akan lebih mandiri. Mereka sudah bisa mencuci tangan atau bahkan makan sendiri. Mereka juga sering merasa takut dan mulai memahami emosi mereka sendiri, mereka mungkin akan mengatakan ‘aku marah’ saat mereka marah dan ‘aku sedih’ saat mereka merasa sedih.

Anak berusia 3 tahun juga sudah mampu berteman baik dengan teman sebayanya seperti mulai belajar bergantian saat memainkan mainan meskipun mereka tidak suka, memanggil nama temannya, mulai bisa menghibur dan menunjukkan kepedulian terhadap temannya yang sedang sedih.

Kemampuan Kognitif

Anak di usia 3 tahun juga mulai tertarik dengan hal-hal baru, mereka mungkin akan mulai sering bertanya apapun yang membuat mereka penasaran kepada orang tuanya. Cobalah menjelaskan secara sederhana apa yang anak tanyakan dan jangan mengarang cerita atau membohongi anak.

Jika Anda sering membacakan cerita pada anak, di usia ini mereka sudah mampu menceritakan kembali cerita kesukaan mereka. Anda juga dapat bermain teka-teki sederhana dengan menanyakan mengenai warna-warna yang ada pada buku ataupun krayon milik anak, karena pada usia ini anak setidaknya sudah mengenali delapan macam warna.

Kemampuan Komunikasi

Mereka juga mudah menyerap hal-hal di sekitarnya dan memahami apa yang mereka katakan, karena itu penting untuk bisa menjaga sikap dan perkataan saat di hadapan anak. Di tahap ini juga, Anda bisa mengajarkan anak untuk mengucapkan ‘terima kasih’ dan ‘tolong’

Umumnya anak di usia 3 tahun juga sudah mampu berbicara dengan cukup baik dan sudah banyak orang yang mampu mengerti apa yang mereka katakan. Mereka bisa merangkai setidaknya tiga kata untuk membentuk kalimat.

Mungkin perkembangan anak di usia 3 tahun berbeda-beda, ada yang cepat dan ada juga yang lambat. Namun jika anak tidak mampu berbicara dengan jelas, sering terjatuh, tidak melakukan kontak mata saat berbicara hingga tidak mengerti hal-hal sederhana yang Anda arahkan. Anda harus segera berkonsultasi ke dokter anak.

Perlukah Memberikan Minyak Ikan untuk Bayi?

Perlukah Memberikan Minyak Ikan untuk Bayi?

Banyak orang percaya bahwa minyak ikan mengandung nutrisi omega-3 yang baik untuk kesehatan. Tapi, apakah perlu memberikan minyak ikan untuk bayi?

Saat masih bayi, anak Anda memerlukan berbagai macam nutrisi agar bisa tumbuh dan berkembang. Tapi, sebagai orang tua, Anda juga perlu waspada dalam memberikan asupan nutrisi bagi bayi.

Jangan sampai, Anda tidak memantau asupan nutrisi anak dengan baik, sehingga mereka mengonsumsi sesuatu yang tidak seharusnya dikonsumsi saat masih bayi.

Cara memberikan minyak ikan untuk bayi

Sebenarnya, membersihkan minyak ikan pada bayi Anda bukanlah hal yang buruk. Hanya saja, Anda harus berhati-hati dalam memberikan dosis minyak ikan tersebut.

Karena, tidak semua suplemen minyak ikan ditujukan untuk pengguna segala usia. Beberapa suplemen mungkin tidak cocok diberikan kepada bayi.

Oleh sebab itu, pastikan Anda menggunakan suplemen minyak ikan yang aman untuk bayi Anda. Setelah itu, berikan sesuai dengan dosis dan anjuran pemakaian yang ada pada kemasan, atau konsultasikan lebih dulu dengan dokter.

Umumnya, dosis minyak ikan untuk bayi yang dianjurkan adalah sebanyak 0.5 gram. Ini dosis untuk bayi berusia 0 sampai dengan 12 bulan. Dosis tersebut akan terus mengalami peningkatan seiring bertambahnya usia anak Anda. 

Mengapa bayi memerlukan minyak ikan?

Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, minyak ikan kaya akan omega-3. Ini adalah salah satu nutrisi yang penting bagi kesehatan, baik untuk bayi, anak-anak, maupun orang dewasa.

Ada banyak manfaat omega-3 bagi kesehatan bayi Anda. Beberapa manfaat tersebut berupa:

Mengurangi gejala asma

Minyak ikan untuk bayi dipercaya mampu mengurangi gejala asma. Secara khusus, gejala yang diredakan berupa sesak napas, nyeri dada, serta batuk. 

Khasiat ini bukan hanya bisa dirasakan oleh penderita asma yang masih anak-anak. Bahkan, penderita dewasa pun juga bisa menggunakan minyak ikan untuk meredakan gejala asma mereka. 

Meningkatkan kesehatan otak

Banyak orang tua yang memberikan minyak ikan pada anak, dengan harapan anak bisa menjadi lebih unggul dalam segi pendidikan. Kepercayaan ini datang dari kemampuan omega-3 pada minyak ikan untuk meningkatkan kesehatan otak.

Penelitian telah membuktikan bahwa anak yang mendapatkan asupan omega-3 yang memadai memiliki kemampuan belajar yang lebih unggul. Selain itu, kemampuan memori anak pun akan menjadi lebih berkembang. 

Meningkatkan kualitas tidur

Tidak sedikit bayi dan anak-anak yang mengalami gangguan tidur. Anda bisa mencegah masalah ini dengan memberikan minyak ikan untuk bayi sejak dini.

Selain itu, sebagai orang tua, Anda juga bisa membiasakan diri untuk mengonsumsi asam lemak omega-3 dari minyak ikan di masa kehamilan. Ini bisa memperbaiki pola tidur bayi ketika sudah dilahirkan nantinya. 

Adakah efek samping minyak ikan?

Suplemen minyak ikan juga bisa minyak ikan juga bisa memberikan efek samping. Akan tetapi, efek samping ini cenderung ringan dan bisa membaik dengan sendirinya setelah beberapa waktu. Efek samping tersebut meliputi:

  • Bau mulut
  • Sakit kepala
  • Sakit perut
  • Mual dan diare
  • Maag

Ini adalah efek samping yang sangat umum terjadi. Guna meminimalisir risiko efek samping, pastikan anak Anda mengonsumsi minyak ikan sesuai dengan dosis yang dianjurkan.

Jika ingin memberikan minyak ikan untuk bayi dengan lebih aman, Anda bisa berkonsultasi lebih dulu dengan dokter Anda. Tanyakan mengenai produk suplemen minyak ikan yang aman bagi bayi, serta cara pemberian yang paling tepat.

Marasmus dan Bentuk Kondisi Malnutrisi Lainnya

Marasmus dan Bentuk Kondisi Malnutrisi Lainnya

Penyakit Marasmus merupakan salah satu bentuk dari malnutrisi atau kekurangan gizi. Ini biasanya terjadi pada masyarakat di negara-negara berkembang, seperti di Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Tengah.

Sebenarnya, ada banyak sekali bentuk malnutrisi yang bisa menyerang seseorang. Umumnya, semua jenis malnutrisi itu memiliki penyebab dan ciri-ciri yang sama, yaitu kekurangan gizi serta ditandai dengan berat badan yang jauh di bawah normal.

Macam-macam bentuk malnutrisi selain Marasmus

Ada banyak jenis malnutrisi yang mungkin bisa menyerang anak kecil di negara-negara berkembang. Selain penyakit ini, berikut beberapa contoh jenis malnutrisi lainnya:

  • Kwashiorkor

Kondisi yang satu ini juga terjadi karena kekurangan gizi. Ini terjadi ketika anak mengalami kekurangan energi protein dalam jumlah besar.

Berbeda dengan jenis malnutrisi lainnya, Kwashiorkor bisa menimbulkan gejala fisik yang mudah terlihat berupa pembengkakan. Ini terjadi karena tubuh menahan cairan, umumnya di area kaki, lengan, tangan, dan wajah.

Umumnya, kondisi ini akan menimbulkan gejala berupa kehilangan selera makan, mudah merasa kesal dan sensitif, perubahan warna rambut menjadi kekuningan, serta kekurangan energi. 

  • Kwashiorkor Marasmik

Jenis malnutrisi yang satu ini merupakan bentuk ketiga dari malnutrisi energi protein yang parah. Gejala dari kondisi ini merupakan gejala dari kombinasi Kwashiorkor dan Marasmus

Ketika mengalami Kwashiorkor Marasmik, seseorang akan menjadi sangat kurus. Selain itu, mereka akan mengalami penumpukan cairan berlebihan di bagian-bagian tubuh lain. 

Anak-anak yang menderita kondisi ini umumnya memiliki berat badan yang 60 persen lebih rendah dari berat badan normal. Kondisi ini perlu diobati sesegera mungkin sebelum menjadi lebih parah.

Itulah beberapa jenis malnutrisi yang bisa terjadi pada anak. Semua jenis tersebut lebih sering terjadi pada anak-anak di negara berkembang. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa orang dewasa, khususnya lansia, juga mungkin akan mengalaminya.

Pengobatan

Anda hanya bisa mendapatkan pengobatan yang tepat setelah melakukan pemeriksaan ke dokter. Dokter akan mendiagnosa kondisi Anda, menentukan tingkat keparahan gejala, serta memutuskan metode pengobatan yang paling tepat. 

Berikut ini beberapa metode pengobatan yang mungkin dilakukan: 

  • Pemberian susu skim bubuk kering

Dokter atau tenaga medis mungkin akan memberikan susu skim bubuk kering pada anak Anda. Bubuk susu tersebut akan dicampurkan dengan air matang.

Kemudian, akan ditambahkan lagi dengan campuran lain berupa minyak nabati seperti wijen, kasein, dan gula. Ini membuat susu jadi kaya akan protein dan kandungan energi padat yang bisa membantu mengobati Marasmus. 

  • Pemberian asupan cairan

Dalam beberapa kasus, malnutrisi juga bisa membuat anak mengalami dehidrasi. Ini akan menyebabkan diare. Saat dehidrasi terjadi, maka pengobatan yang dilakukan adalah pemberian cairan.

Pemberian cairan bisa dilakukan dengan memastikan anak minum dalam jumlah yang lebih banyak dari biasanya. Selain itu, pemberian cairan juga bisa dilakukan melalui saluran intravena. 

Apabila kondisi sudah sangat parah, anak mungkin harus dirawat di rumah sakit. Selama di rumah sakit, dokter akan memastikan anak mendapatkan asupan nutrisi yang memadai, baik dengan pemberian melalui makanan maupun melalui saluran intravena. 

Penyembuhan untuk penyakit Marasmus memerlukan waktu yang tidak sebentar. Penderita mungkin harus dirawat di rumah sakit selama beberapa minggu. Setelah itu, masa pemulihan juga bisa memakan waktu sampai dengan beberapa bulan, sesuai dengan kondisi masing-masing penderita.