Upaya Menghindari Tulang Kering Sakit Saat Lari

Upaya Menghindari Tulang Kering Sakit Saat Lari

Berlari dapat digolongkan sebagai aktivitas fisik yang cukup berat. Berlari, apapun alasannya, mulai dari dikejar anjing ataupun memang diniatkan sebagai olahraga, punya potensi menimbulkan cedera. Ada beberapa kondisi cedera yang bisa terjadi, sementara merasakan tulang kering sakit saat lari hanya salah satunya saja.

Tulang kering sakit saat lari biasanya terjadi karena kondisi yang disebut shin splints, meski kondisi itu bukanlah penyebab satu-satunya. Shin splints terjadi karena tekanan yang menumpuk akibat kegiatan seperti berlari, menari, atau latihan berat seperti yang biasa dijalani oleh anggota militer.

Adanya akumulasi tekanan tersebut membuat otot, tendon, dan jaringan yang ada di sekitar tulang kering bekerja terlalu keras sehingga menimbulkan nyeri. Nyeri atau sakit yang dirasakan di bagian tulang kering juga bisa akibat retak tulang atau dalam istilah medis disebut stress fracture.

Retakan kecil di tulang kering itu muncul ketika tulang kering digunakan secara berlebihan. Olahraga lari, atau olahraga yang menuntut seseorang melakukan gerakan berulang, macam sepak bola, basket, senam, dan lain sebagainya, juga berpotensi membuat seseorang merasakan tulang keringnya sakit.

Di tengah maraknya olahraga lari belakangan ini, persiapan dan pengetahuan yang matang perlu dipenuhi sebelum “terjun” ke lintasan lari. Kendati olahraga lari hanya perlu peralatan sederhana, bukan berarti kamu bisa menyepelekannya. Olahraga yang tak dipersiapkan bisa menyebabkan cedera, termasuk mengalami tulang kering sakit saat lari.

Sebagai informasi, berikut beberapa upaya yang bisa dilakukan agar olahraga lari yang kamu jalani bisa tetap aman dan menyenangkan tanpa merasakan tulang kering sakit saat lari:

  • Memakai sepatu yang tepat

Pastikan kamu menggunakan sepatu yang tepat selama berlari. Sepatu yang dimaksud adalah sepatu khusus lari atau running shoes. Jangan asal gunakan sepatu, hanya menggunakan sandal, atau malah tidak pakai alas kaki sama sekali. 

Keuntungan menggunakan sepatu running selama berlari adalah tubuh, terutama engsel kaki dan lutut, dapat ditopang dengan sempurna. Sebab sepatu jenis ini memang dibuat untuk menopang postur tubuh kita. Selain itu, sepatu running dapat meredam tekanan pada lutut saat kita berlari, sehingga membantu latihan terhadap otot kaki dan paha. Biasanya, sepatu running memiliki bobot yang lebih ringan dari sepatu biasa.

  • Perhatikan ayunan langkah kaki

Mungkin kamu pernah berpikir kalau langkah yang lebar akan membuat jarak tempuh panjang. Padahal, langkah yang terlalu panjang dapat membuat kaki kamu cedera dan lebih cepat lelah. Kaki akan mendarat pada tumit dan posisinya terlalu jauh dari tubuh. Akibatnya otot tulang kering akan menahan beban lebih berat dari yang seharusnya. 

Bukannya sampai tujuan, ujung-ujungnya malah kamu berlari sambil jalan akibat gangguan tersebut. Selain itu, kebiasaan ini juga malah akan menghabiskan energi yang bikin kamu jadi cepat lelah. 

  • Perhatikan rute berlari

Berlari di rute yang menanjak, seperti di daerah perbukitan, sering kali menimbulkan sensasi nyeri di tulang kering. Kamu bisa memilih berlari di tempat yang datar seperti di  lintasan, tetapi kebiasaan ini cenderung membuat kamu bosan dan kehilangan motivasi untuk terus berolahraga. Karena itu, pastikan kamu berganti rute berlari untuk terus menciptakan motivasi dalam diri. Mencoba tempat baru bisa membangkitkan semangat dan tantangan baru.Itulah beberapa upaya preventif yang bisa dilakukan untuk menghindari kondisi tulang kering sakit saat lari. Intinya, tulang kering sakit saat lari, berolahraga, dan aktivitas lainnya adalah tanda bahwa organ tubuhmu itu mendapat tekanan berlebih. Kalau sudah demikian, ada baiknya berhenti sejenak dan lakukan recovery sebelum kembali beraktivitas. Ingat, memaksakan diri berpotensi besar memperparah kondisimu.

Marasmus dan Bentuk Kondisi Malnutrisi Lainnya

Marasmus dan Bentuk Kondisi Malnutrisi Lainnya

Penyakit Marasmus merupakan salah satu bentuk dari malnutrisi atau kekurangan gizi. Ini biasanya terjadi pada masyarakat di negara-negara berkembang, seperti di Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Tengah.

Sebenarnya, ada banyak sekali bentuk malnutrisi yang bisa menyerang seseorang. Umumnya, semua jenis malnutrisi itu memiliki penyebab dan ciri-ciri yang sama, yaitu kekurangan gizi serta ditandai dengan berat badan yang jauh di bawah normal.

Macam-macam bentuk malnutrisi selain Marasmus

Ada banyak jenis malnutrisi yang mungkin bisa menyerang anak kecil di negara-negara berkembang. Selain penyakit ini, berikut beberapa contoh jenis malnutrisi lainnya:

  • Kwashiorkor

Kondisi yang satu ini juga terjadi karena kekurangan gizi. Ini terjadi ketika anak mengalami kekurangan energi protein dalam jumlah besar.

Berbeda dengan jenis malnutrisi lainnya, Kwashiorkor bisa menimbulkan gejala fisik yang mudah terlihat berupa pembengkakan. Ini terjadi karena tubuh menahan cairan, umumnya di area kaki, lengan, tangan, dan wajah.

Umumnya, kondisi ini akan menimbulkan gejala berupa kehilangan selera makan, mudah merasa kesal dan sensitif, perubahan warna rambut menjadi kekuningan, serta kekurangan energi. 

  • Kwashiorkor Marasmik

Jenis malnutrisi yang satu ini merupakan bentuk ketiga dari malnutrisi energi protein yang parah. Gejala dari kondisi ini merupakan gejala dari kombinasi Kwashiorkor dan Marasmus

Ketika mengalami Kwashiorkor Marasmik, seseorang akan menjadi sangat kurus. Selain itu, mereka akan mengalami penumpukan cairan berlebihan di bagian-bagian tubuh lain. 

Anak-anak yang menderita kondisi ini umumnya memiliki berat badan yang 60 persen lebih rendah dari berat badan normal. Kondisi ini perlu diobati sesegera mungkin sebelum menjadi lebih parah.

Itulah beberapa jenis malnutrisi yang bisa terjadi pada anak. Semua jenis tersebut lebih sering terjadi pada anak-anak di negara berkembang. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa orang dewasa, khususnya lansia, juga mungkin akan mengalaminya.

Pengobatan

Anda hanya bisa mendapatkan pengobatan yang tepat setelah melakukan pemeriksaan ke dokter. Dokter akan mendiagnosa kondisi Anda, menentukan tingkat keparahan gejala, serta memutuskan metode pengobatan yang paling tepat. 

Berikut ini beberapa metode pengobatan yang mungkin dilakukan: 

  • Pemberian susu skim bubuk kering

Dokter atau tenaga medis mungkin akan memberikan susu skim bubuk kering pada anak Anda. Bubuk susu tersebut akan dicampurkan dengan air matang.

Kemudian, akan ditambahkan lagi dengan campuran lain berupa minyak nabati seperti wijen, kasein, dan gula. Ini membuat susu jadi kaya akan protein dan kandungan energi padat yang bisa membantu mengobati Marasmus. 

  • Pemberian asupan cairan

Dalam beberapa kasus, malnutrisi juga bisa membuat anak mengalami dehidrasi. Ini akan menyebabkan diare. Saat dehidrasi terjadi, maka pengobatan yang dilakukan adalah pemberian cairan.

Pemberian cairan bisa dilakukan dengan memastikan anak minum dalam jumlah yang lebih banyak dari biasanya. Selain itu, pemberian cairan juga bisa dilakukan melalui saluran intravena. 

Apabila kondisi sudah sangat parah, anak mungkin harus dirawat di rumah sakit. Selama di rumah sakit, dokter akan memastikan anak mendapatkan asupan nutrisi yang memadai, baik dengan pemberian melalui makanan maupun melalui saluran intravena. 

Penyembuhan untuk penyakit Marasmus memerlukan waktu yang tidak sebentar. Penderita mungkin harus dirawat di rumah sakit selama beberapa minggu. Setelah itu, masa pemulihan juga bisa memakan waktu sampai dengan beberapa bulan, sesuai dengan kondisi masing-masing penderita.